OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Parahyangan

Parahyangan adalah kewajiban manusia untuk dapat menjaga hubungan yang harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan salah satu bagian dari konsep keharmonisan Tri Hita Karana kepada yang maha suci.
Dalam sumber kutipan Bimbingan Ketrampilan Hidup yang Berlandaskan Tri Hita Karana, dijelaskan bahwa parahyangan ini menyiratkan gambaran hidup  manusia di dunia yang bertujuan untuk :

Bali Dwipa

Bali Dwipa adalah Bali dijaman keemasan yang diawali dengan bertahtanya seorang raja dan penguasa bali kuno yang bernama Sri Kesari Warmadewa Çaka 804 yang dalam purana Bali Dwipa disebutkan :
Aci-aci mulai lagi dilaksanakan antara lain Hari Raya Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma melawan adharma.
Begitupun pada masa kejayaan Raja Udayana juga hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Bali Dwipa ditata kembali yang bertujuan :
  • Untuk dapat memberi corak dan warna bagi kehidupan masyarakat, 
  • Perselisihan dan pertentangan menjadi situasi persatuan dan kesatuan kembali.
Setelah itu, tatkala Dalem Waturenggong menjadi penguasa yang didampingi oleh Danghyang Nirartha sebagai bhagawanta kerajaan ketika itu dalam sejarah agama hindu oleh juniartha kurniawan diceritakan bahwa Bali Dwipa juga kembali mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata kembali dengan baik. 
  • Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, 
  • Hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, 
  • Prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. 
  • Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, 
  • Organisasi subak ditumbuh-kembangkan 
  • dan kegiatan keagamaan dll kembali ditingkatkan.
Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan seperti :
  • lontar, dengan maknanya yang sangat khas.
  • kidung atau kekawin. 
    • lagu-lagu suci dharma gita keagamaan / kidung kerohanian kembali dikumandangkan
  • dll
Karya sastra beliau yang terkenal sewaktu itu antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll. 
Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan dharma wacana sebagai bagian dari sad dharma untuk merealisasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Karena sebagaimana disebutkan dengan adanya peningkatan kualitas beragama seperti halnya perilaku orang-orang suci Nirudha yang penuh pengertian, bijaksana, 
Segala pemikiran perkataan dan perbuataannya terkendali oleh ajaran-ajaran agama yang kuat untuk dapat mengabdi pada kepentingan umat manusia
Sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Sumber : sejarahharirayahindu 

Danghyang Nirarta

Danghyang Nirarta disebut juga Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh (Danghyang Dwijendra, atau namabhiseka lain beliau : "Mpu Nirartha"; Padmasana)adalah 
  • putra dari Danghyang Smaranatha, Danghyang Smaranatha adalah putra Mpu Tantular, 
  • Sedangkan Mpu Tantular sendiri merupakan putra dari Mpu Bahula dengan Dyah Ratnamanggali.

Warga

Warga dalam bahasa Bali, berarti jenis atau kelompok.
  • Suatu sistem pengelompokan dalam Aksara Bali menurut dasar pengucapannya yang disebut warga aksara.
  • Krama banjar / desa adat, sebagai warga masyarakat dalam kelompok wilayah desa adat
    • dengan ciri nama khas nak Bali 
    • sebagai gelar warisan turun temurun yang melekat.
    • Demikian juga ketika masyarakat mendengar bunyi kulkul, maka warga akan berduyun-duyun datang membantu. 
  • Krama Tamiuwarga pendatang yang hadir di Bali, baik untuk menetap atau

Paruman Desa Adat

Paruman atau (pasangkepan, sangkep desa adat) adalah bentuk musyawarah yang sangat demokratis (demokrasi asli), karena setiap Krama (warga) desa adat memiliki hak suara yang sama sehingga keputusan yang di ambil dapat memuaskan diri setiap orang untuk mencapai kepuasan dan kebahagiaan atmanastusti dan kesentosaan bagi seluruh masyarakat.

Paruman umumnya membahas hal-hal yang dianggap perlu dan biasa diselenggarakan secara rutin (nityakala) atau juga insidental(padgatakala).

Sabha-Sabha Desa (Musywarah Desa) atau Sangkepan (sidang-sidang) dan Paruman Desa (rapat desa) hendaknya diadakan secara rutin dengan memasukkan teknologi dan manajemen modern dalam mengurus Desa adat adalah sangat mutlak, sepanjang management modern itu mendukung pelaksanaan ajaran agama Hindu.

Awig-Awig Desa Adat

Awig-awig Desa adat adalah aturan-aturan yang dibuat oleh Krama Desa melalui Paruman Desa adat dan terkadang, umumnya banyak yang tidak disuratkan. 
Namun karena perkembangan jaman, dewasa ini telah berhasil disuratkan awig-awig tersebut sebagai pedoman bagi pengurus Desa adat dalam melaksanakan kewajibannya maupun bagi warga, dan di dalam awig-awig tersebut kita jumpai sanksi-sanksi adat bagi warga desa yang melanggarnya. 


Identitas Manusia Bali

Identitas Manusia Bali dalam adat, budaya dan agama dalam transformasi kebudayaan Bali memasuki abad XXI disebutkan yaitu :
  • Dari perspektif adat, identitas manusia Bali adalah manusia yang kokoh dalam mempertahankan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur selama berabad-abad. 
  • Dari perspektif budaya, identitas manusia Bali adalah manusia yang aktif-kreatif dalam mencipta, memelihara, dan mengembangkan

Sekar Madya