Melalui upacara Atma Wedana ini yang diawali dengan dilaksanakannya upacara ngangget don bingin sebagai sarana ngawi sekah utawi puspa sarira sajeroning upacara mamukur sehingga nantinya roh atau atman leluhur kita itu menjadi Dewa Pitara untuk selanjutnya dapat menstanakannya di Kemulan.
Tampilkan postingan dengan label Atman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atman. Tampilkan semua postingan
Atman Wedana
Melalui upacara Atma Wedana ini yang diawali dengan dilaksanakannya upacara ngangget don bingin sebagai sarana ngawi sekah utawi puspa sarira sajeroning upacara mamukur sehingga nantinya roh atau atman leluhur kita itu menjadi Dewa Pitara untuk selanjutnya dapat menstanakannya di Kemulan.
Pitra (Pitara)
Pitra ("Pitara") berasal dari kata “Pitri” yang mengandung arti sebagai unsur-unsur kekuatan Panca Maha Bhuta yang membentuk lapisan Stula Sarira sebagaimana yang disebutkan dalam panduan pitra yadnya upacara pitra yadnya oleh yayasan pitra yadnya Indonesia yang awalnyapitra disebutkan merupakan peningkatan status dari preta melalui upacara sawa wedana dalam upacara pitra yadnya sebagai salah satu kewajiban suci tri rna kita kepada para leluhur.
Preta
Preta (atma petra) adalah roh atau atman dari orang yang baru meninggal dunia dan belum dilaksanakan upacara sawa wedana untuk jenazah orang yang baru meninggal dunia sebagai proses pengembalian Panca Maha Bhuta.
Di Bali, preta ini akan menjadi bhuta cuil sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Made Titib pada saat dikukuhkan sebagai guru besar IHDN Denpasarsehingga beliau menyebutkan bahwa,
preta ini hendaknyalah segera dibebaskan dari keterikatan dengansukshma sarira atau lapisan badan kasarnya maka upacara ngabenpatut dilakukan untuk membebaskan preta dan meningkatkan statusnya menjadi pitra atau dewa pitara.
Kelahiran
Kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang sangat mulia sebabnya demikian, - karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan punarbhawa, reinkarnasi yang berulang ulang,
- agar nantinya dapat mencapai moksa, kebahagiaan abadi sebagai tujuan hidup di dunia ini.
- Anggapati,
- Prajapati, inti dari manusia
- Banaspati, dan
- Banaspatiraja.
Kematian
- Hubungan manusia sebagai mahluk hidup dengan dunia nyatanya telah putus yang biasanya dalam Bahasa Bali berkaitan dengan upacara pitra yadnya disebut dengan "Pegat Angkihan" dimana :
- Doa pralina diucapkan agar roh berjalan tenang dan diterima oleh Ida Shang Hyang Wenang / Hyang Widhi untuk dapat mencapai kesucian.
- Terlepasnya sang jiwa (atman) dengan sthula sarira (badan fisik) juga disebutkan :
- Akan melewati alam Mrtya Loka dengan perlahan-lahan;
- Untuk melepaskan sisa-sisa keterikatan terhadap kehidupan duniawi dan kekasaran pikiran.
Jiwatman
Jiwatman adalah atman sebagai jiwa dari kehidupan setiap makhluk termasuk didalamnya manusia itu sendiri yang dalam Lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan :Meskipun Ātma merupakan bagian dari Sanghyang Widhi (ŚIWĀ), namun karena adanya belenggu Awidya yang ditimbulkan oleh pengaruh Māyā (Prdhāna Tattwa), maka Ia tidak lagi menyadari asalnya.
Hal inilah menyebabkan Ātma ada dalam lingkungan
- Sorga, alam swah loka.
- Neraka, alam bhur loka.
- Samsara secara berulang-ulang di mayapada, alam bwah loka ini.
Pembebasan dari samsara yang berarti telah
Atman
- Sumber citta dan sthula sariranya makluk hidup.
- Bertanggung jawab atas baik buruk atau amal dosa dari segala karmanya makluk yang bersangkutan.
- Menjadi tenaga hidup dari suksma sariranya makluk yang bersangkutan.
Sebagaimana katahindu dalam atman tattwa, panca sradha yang menyebutkan ada tiga fungsi atman yaitu sebagai
- sumber hidup,
- sebagai yang bertanggung jawab atas karmawasana setiap manusia
- dan sebagai pemberi tenaga kehidupan.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)