OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Lontar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lontar. Tampilkan semua postingan

Yama Tattwa

Yama Tattwa adalah naskah lontar yang berisikan tentang makna petulangan dalam upacara ngaben yang berbentuk: naga, lembu, singa, macan dan tabla yang merupakan salah satu dari lontar tentang upacara dan bebantenan agama hindu di Bali.

Selain itu, naskah - naskah ini dalam sumber kutipan alih aksara dan alih bahasa lontar yama tattwa juga menguraikan jenis bebantenan yang digunakan untuk mlaspas bade, serta mantra yang harus dilapalkan untuk menghaturkan yadnya sesuai dengan jenisnya.

Pada dasarnya tata cara mengupacarai orang yang meninggal dunia, baik yang mati secara wajar maupun yang mati tidak wajar berbeda - beda yaitu : 
  • Untuk orang yang mati secara wajar, sebaiknya

Lontar Tentang Arsitektur Bali

Beberapa naskah lontar yang memuat tentang arsitektur Bali sebagai representasi peradaban kehidupan, seni budaya dalam cipta dan rasa yang meliputi bangunan atau tempat suci keagamaan dan bangunan rumah adat yang dalam arsitektur lokal Bali disebutkan hendaknya dapat beradaptasi dengan kondisi alam lingkungan dan nilai-nilai cultural setempat sehingga asri dan nyaman.
  • Lontar “Keputusan Sang Hyang Anala” memuat secara rinci mengenai 
    • cara memilih tanah, jenis tanah, tata ruang halaman, prosedur membangun 
    • hingga upacara yang berhubungan

Lontar Medang Kemulan

Lontar Medang Kemulan; Medangkemulan merupakan salah satu dari lontar wariga di Bali sebagai pedoman dalam melakukan upacara yadnya, bercocok tanam dll agar tujuan yajna dapat tercapai dengan baik.
Secara garis besarnya, lontar ini menguraikan tentang percakapan Sang Hyang Dharma Siddhi dengan Sang Hyang Siddhi Mantra, tentang asal muasal aksara semua. 

Lontar Kemoksan

Lontar Kemoksan | atau Kalepasan disebutkan adalah lontar yang menuntun menuju jalan moksa yang bersifat Aja Wera, nilai - nilai luhur yang terkandung didalamnya adalah tentang cara-cara untuk mencapai tujuan hidup dengan melalui praktek-praktek / pelaksanaan ajian-ajian (mantra). 

Berbagai ajian-ajian ditawarkan dalam naskah lontar ini, dan apabila seseorang tersebut mampu menerapkan ajian tersebut maka akan tercapai apa yang dikehendakinya, baik itu kawisesan (kecerdasan) maupun kamoksan. 

Ajian-ajian yang terdapat dalam naskah ini memiliki nilai kesakralan tinggi. Hakikat ajian tersebut bersifat sangat rahasia dan tidak semua bisa mempraktekkannya sehingga memerlukan kesigapan, ketelitian, ketekunan dan ketajaman batin pembacanya. 

Lontar Yajna Prakerti

Lontar Yajna "Yadnya" Prakerti adalah bagian dari widi sastra yang merupakan sabda Betari Uma yaitu Dewi Durga yang berstana di pura dalem dan dipakai pedoman/dasar gama kreti.

Teks Agama Hindu Dharma ini sebagaimana disebutkan dalam abstrak naskah di Perpustakaan Universiatas Indonesia, Yajna Prakerti ini terdiri dari dewa kti, buda kti, manusa kti, dan jagat kti.

Disebutkan juga jenis-jenis yadnya seperti; Aswameda Yadnya, Siwa Yadnya, Rsi yadnya, buta Yadnya, Manusa Yadnya. 

Dilanjutkan dengan keutamaan Sang Brahmana Pendeta dan hubungannya dengan segala jenis yadnya.
Beliau wajib memutuskan segala bentuk yadnya karena

Widhi Tatwa

Widhi Tatwa | disebutkan adalah Lontar Filsafat tentang Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Widhi adalah Esa; sumber : Upadesa tentang ajaran ajaran Agama Hindu, Parisadha Hindu Dharma pusat dikutip dari hal. 15 - 25 mengisahkan tentang percakapan antara Sang Suyasa dan Rsi Dharmakerti.

Sang Suyasa :
Memang dari tadi, empuku telah sebut sebut nama Sang Hyang Widhi. Berkenankah Guru menerangkannya siapa Sang Hyang Widhi itu ?

Dharma Pemaculan

Dharma Pemaculan adalah teks yang berisikan cara bercocok tanam sebagai bagian dari lontar tentang upacara agama Hindu.
Alangkah bijaknya manusia sebagai pemegang mandat Yang Kuasa ini apabila segala kemajuan yang telah dicapai pada segala bidang diselaraskan dengan kejujuran dan keadilan alam.
Dulu manusia sangat menyadari hidupnya diberkati oleh alam sehingga segala sesuatu yang akan diperbuatnya selalu memohon ijin kepada alam. 
  • Begitu pula setelah mereka berhasil menyelesaikannya, 
  • mereka juga melaporkannya kepada alam sebagaimana yang dikatakan cakrawayu dalam tumbuhnya wewaran (sebuah mitologi) yang pada awal mulannya wariga lebih banyak digunakan sebagai padewasan Darma pemaculan ini.

Lontar Putru Pasaji

Dalam lontar Putru Pasaji ini disebutkan ada ikan/daging yang dilarang untuk dijadikan persembahan,
karena akan menghilangkan kesucian sehingga nantinya akan kembali pada alam papa dan neraka (bhur loka). 
Dalam upacara Pitra Yadnya yang juga disebutkan dalam lontar ini ada banyak jenis ikan yang dapat dijadikan persembahan kepada sang pitara. Lamanya kesenangan yang dapat diberikan oleh masing-masing ikan berbeda. 
  • Ikan laut kualitasnya paling rendah karena dapat memberikan kesenangan hanya

Lontar Geguritan Bima Swarga

Lontar Geguritan Bhima Swarga | dalam analisis struktur lontar geguritan tersebut dikisahkan perjalanan Bhima untuk menyelamatkan orang tuanya yaitu Pandu dan Dewi Madri dari alam neraka sebagai penerapan ajaranGuru Susrusa yang dalam cerita rakyat Bali, "Bhima Swarga", Bhima yang menjalankan tugasnya diiringi oleh merdah dan Tualen yang sesampainya mereka di tegal penangsaran tempat para roh / atman menunggu giliran menghadap Bhatara Yama untuk menentukan apakah sang roh harus masuk surga atau ke neraka. Dalam penantian itu, para roh menerima hukuman sesuai karma wasana-nya.

Dalam kutipan lontar geguritan bhima swarga tersebut juga disebutkan pengertian dan istilah,

Lontar Sundarigama

Lontar Sundarigama adalah lontar yang bersifat filosofis-religius karena mendeskripsikan norma - norma, gagasan, perilaku, dan tindakan keagamaan, serta jenis-jenis sesajen persembahan atau yadnya yang patut dibuat pada saat merayakan hari-hari suci umat Hindu Bali, mengajarkan kepada umatnya untuk berpegang kepada hari-hari suci berdasarkan,

Gedong Kirtya

Gedong Kirtya Jalan Veteran,
Singaraja - Bali
Gedong Kirtya Singaraja Bali adalah merupakan perpustakaan naskah atau lontar-lontar Bali, bercikal bakal dari koleksi buku-buku dan lontar-lontar yang diwariskan Oleh Herman Neubronner van der Tuuk yang dikisahkan sejarahnya dalam wikipedia.

Disebutkan pula, karena jasa - jasa beliau setelah 34 tahun kematian Van der Tuuk, diselenggarakan sebuah pertemuan sangat bersejarah. Tempatnya di Kintamani, kawasan pegunungan Batur, tanggal 2 Juni 1928. L.J.J Caron (residen/perwakilan pemerintah Belanda di Bali dan Lombok) dan para raja serta tokoh agama bertemu untuk berdiskusi mengenai kekayaan kesenian sastra dan lontar-lontar yang tersebar di seluruh Bali.

Lontar Whraspati Tattwa

Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan terdiri atas 74 pasal dan menggunakan bahasa Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno.
Bahasa Sanskertanya disusun dalam bentuk sloka dan bahasa Jawa Kunanya disusun dalam bentuk bebas (gancaran) yang dimaksud sebagai terjemahan/penjelasan Sanskertanya.
Dan Lontar ini digunakan salah satu sumber tattwa dalam Siwa Tattwa Di Bali, disebutkan Wrhaspati Tattwa berisikan dialog antara seorang guru spiritual yaitu :

Lontar

Lontar adalah sebuah teks yang berisikan purana sebagai bagian dari weda smerti khususnya dalam kelompok Upaweda sebagai kitab suci umat Hindu Dharma yang disebutkan tidak akan pernah musnah selama kehidupan ini masih eksis.
Lontar juga disebutkan adalah salah satu bentuk naskah kuno (manuskrip) nusantara yang banyak ditemukan di pulau Bali.
Teks tersebut sebagaimana disebutkan ditulis tangan pada helai-helai daun rontal (palm-leaf) dan juga terdapat prasi berbentuk gambar dan lukisan - lukisan, memiliki arti yang sangat penting dan strategis dalam hal,
  • ilmu pengetahuan, 
    • sebagai sarana untuk untuk dapat meningkatkan diri dalam hal kesucian bathin.
  • dan pengalaman hidup, 
    • seperti halnya disebutkan dalam kanda pat, semua pengalaman hidup di record oleh Sang Suratma, catatan subha dan asubha karma yang menjadi penilaian dan pertimbangan kesucian untuk nantinya dapat menentukan tercapainya moksa (bersatunya atman dengan brahman) 

Sekar Madya