OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Pura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura. Tampilkan semua postingan

Pelinggih

Pelinggih adalah tempat pemujaan sebagai perwujudan (menstanakan) yang dipuja atau diupacarai sebagaimana dijelaskan dalam arsitektur pura, beberapa pembagiannya disebutkan sebagai berikut :
  • Pelinggih Utama seperti :
    • Padma sebagai tempat pemujaan TuhanYang Maha Esa, bentuknya lengkap, madia dan sederhana, masing-masing disebut padmasana, padmasari, padma capah.
    • Meru, Gedong dll
  • Pelinggih runtutan seperti : Pepelik, taksu dll.

Bhadawang Nala

Bhadawang (Badawang Nala; Bhedawangnala; Bedawang Nala) adalah simbol gerak dinamis kehidupan di bumi yang dijadikan dasar fungsi dan motif hias pada padmasana, seekor kurma yaitu kura - kura besar yang dililit oleh naga, dan juga disebutkan sebagai dasar wadah ataupun bade petulanganpada saat upacara ngaben.

Dalam sebuah sejarah babad bali pada Jaman Bahari di Nusa Bali, disebutkan pula Si Badawang Nala diam bertahan di pangkal sebuah gunung.

Padmasana

Padmasana adalah Linggih Sthana Ida Sang Hyang Widhi yang menurut Lontar “Dwijendra Tattwa”, pelinggih berbentuk Padmasana ini dikembangkan oleh Danghyang Dwijendra, atau nama (bhiseka) lain beliau: Mpu Nirartha atau Danghyang Nirartha.

Berdasarkan wahyu yang diterima beliau di pantai Purancak (Jembrana) ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bali setelah menyeberang dari Jawa Timur di abad ke-14, penduduk Bali perlu dianjurkan membangun pelinggih Padmasana.

Sebelum kedatangan beliau, agama Hindu di Bali telah berkembang dengan baik di mana penduduk memuja Hyang Widhi terbatas dalam kedudukan-Nya secara horizontal.Ajaran itu diterima dari para Maha Rsi yang datang ke Bali sejak abad ke-8, seperti :


Tempat Suci di Pekarangan Rumah

Tempat Suci di dalam Pekarangan Rumah sangatlah penting dalam kaitannya dengan hubungan umat dengan Tuhan. Sering juga umat menanyakan bangunan/pelinggih apa saja yang mesti dibuat dalam pekarangan rumah tersebut.

Menurut beberapa sumber, bangunan/palinggih yang harus ada didalam pekarangan rumah adalah sanggah dan tugu Pangijeng/penunggun karang. Berikut penjelasan yang didapat dari dalam dokumen forum diskusi jaringan hindu nusantara di facebook, yaitu sebagai berikut :
  • Sanggah / Merajan  | pemujaan kepada leluhur merupakan kewajiban bagi umat hindu sebagai pelaksanaan ajaran pitra yadnya dan erat kaitannya dengan adanya pitra rna. Secara fisik, ..........
  • Sanggah Kemulan | tempat

Pura Puseh

Pura Puseh adalah tempat suci pemujaan kepada Dewa Wisnu sebagai pemelihara yang merupakan bagian dari Pura Kahyangan Tiga yang ada disetiap desa adat di Bali.

Fungsi dan jenis padmasana yang berada di utara dalam pura puseh disebutkan
sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa menurut lontar Catur Wariga Winasasari.

Pura

Pura adalah tempat suci bagi umat Hindu yang disebutkan dibagi menjadi beberapa halaman pura sebagai replikasi dari lapisan Tri Loka alam semesta sebagai simbolik dari loka dan tala tersebut.
  • Halaman jeroan pura sebagai simbol 7 alam atas Sapta Loka.
  • Halaman jaba pura sebagai simbol 7 alam bawah Sapta Petala.
Dan hampir semua pura besar di Bali memiliki arsitektur pura dengan bangunan meru yang ciri atapnya bertingkat-tingkat yang menyerupai gunung.

Sanggar Tawang

Sanggar Tawang atau Sanggar Agung adalah sthana dalam bentuk bangunan suci sementara atau temporer yang disebutkan sebagai niyasa : 
Dalam beberapa upacara yadnya penggunaannya sebagaimana dijelaskan sebagai berikut,
  • Saat Bhatara Turun Kabeh, di sor sanggar tawang juga dilengkapi sarana upakara Dangsil sebanyak 6 buah bertumpang 1,3,5,7,9 dan 11, serta kelengkapan sarad ulam dan sarad sanganan, Bagya Pule Kerti, Pulegembal dsb. 
  • Dalam Upacara Bebayuhan Weton Sapuh Leger, Ngadegang Sanggar Tuttuan / Tawang (sanggar tawang ), Ring Sor Surya : Caru mancasata.
  • dll

Pura Kahyangan Tiga

Pura Kahyangan Tiga disebutkan dalam sejarahnya, pada abad ke-10 masehi merupakan awal konsep pura Tri Kahyangan (Pura Kahyangan Tiga) di Bali atas kesepakatan pertemuan besar antar berbagai sekte Hindu di Bali dengan mediator pemerintah yang berkuasa di Bali pada waktu itu.

Pertemuan ini dilaksanakan di Pura Samuan Tiga yang menyepakati penyudahan konflik antar sekte Hindu di Bali dan menjadi awal konsep pura Tri Kahyangan di Bali, serta penerimaan konsep Tri Murti (Tiga Dewa

Padma Bhuwana Tiga

Padma Bhuwana Tiga (Padma Tiga Padma bhuwana;Padmasana Tiga) adalah tiga pelinggih utama yang berada di penataran agung pura besakih untuk memuja Ida Sanghyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudan Sang Hyang Tri Purusa sebagai jiwa - jiwa agung alam semesta ini.

Menurut Piagam Besakih, ''Padma Tiga'' Pura Besakih Sumber Kesucian, Pemujaan Tri Purusa disebutkan oleh PHDI, Pura Agung Besakih sebagai Sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia

Pedharman di Pura Besakih

Padharman di Pura Besakih adalah tempat pemujaan dan penghormatan kepada para leluhur, yang bertujuan lebih menekankan
sebagai media untuk mendudukkan berbagai kelompok warga di Bali yang sudah dalam posisi setara dan bersaudara, 
Sebagaimana disebutkan Pedharman ini memiliki dua fungsi sebagai :
  • Dewa Pratistha, memuja Dewa sebagai manifestasi Tuhan. 
  • Atma Pratistha, memuja atma / roh suci leluhur yang sudah mencapai tahap Dewa Pitara.
Pedarman di Pura Besakih terdiri dari :
  • Pedarman Ida Dalem Klungkung
  • Pedarman Telabah Apit Yeh
  • Pedarman Telabah
  • Pedarman Bujangga Wisnawa
  • Pedarman Badung
  • Pedarman Sukahet
  • Pedarman Sukawati
  • Pedarman Kubontubuh
  • Pedarman Pungakan Bangbang
  • Pedarman I Gusti Ngurah Mengwi
  • Pedarman Kaba-kaba
  • Pedarman Ratu Pasek, sebagai pemujaan Panca

Pura Kawitan

Pura Kawitan adalah tempat suci bagi kelompok pasemetonan atau keturunan keluarga tertentu yang berfungsi untuk memuja Atma Siddha Dewata, manunggalnya atman leluhur dengan Brahman yang juga disebut moksa sebagai ketentraman rohani.

Pura Kawitan yang termasuk pura kahyangan khusus ini seperti halnya : 
  • Paibon, yang berfungsi untuk memanggil para dewata dewati bagi pratisentananya.
  • Dadia, 
  • Padharman. sebagai media untuk mendudukkan berbagai kelompok warga di Bali yang

Hyang Kemulan

Hyang Kemulan; Sanghyang Kamulan adalah Dewa Pitara yang telah disthanakan di sanggah kamulan, 
  • dipuja dengan penghayatan oleh keturunan penyembah-Nya, 
  • yang rasa kehadiran-Nya sangat dihayati oleh hambanya.
Dalam lontar Purwa Bhumi Kamulan disebutkan bahwa seperti disebutkan :
“riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring sanggah kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni……” (Purwa Bhumi kamulan, lembar: ).

Yang artinya :

Sanggah Kemulan

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke ...Sanggah Kemulan adalah sebuah pelinggih dengan rong tiga sebagai wujud penyatuan Sanghyang Triatma dengan sumber dan asalNya.

Jaba Pura

Jaba Pura adalah halaman luar suatu pura sebagai lambang alam bawah, bhur loka. Alam ini, menurut kepercayaan umat Hindu, dianggap sebagai tempat para bhuta kala, sehingga halaman ini digunakan sebagai tempat memberi sesajen kepada makhluk tersebut agar tidak mengganggu manusia. 

Halaman ini digunakan untuk mengadakan upacara yang berhubungan dengan makhluk itu, seperti upacara mecaru, dan tabuh rah dll.

Sehingga sebelum pengerupukan dimulai yaitu setelah tawur kesanga dilaksanakan, penjor yang dilengkapi dengan sanggah cucuk munggah banten Daksina, Pras, Ajuman, Dandanan, ketipat kelanan, Sesayut penyeneng, janganan kacang panjang, pada sanggah cucuk digantung ketipat kelanan, sujang / cambeng berisi tuak, arak, brem dan air tawar.

Candi Bentar

bali kuno budaya bali peta bali budaya bali canang sariCandi Bentar adalah simbul dari pecahnya Gunung Kailaca tempat Dewa Ciwa bertapa yang diluar candi bentar ini (halaman luar /jaba pura)
biasanya terdapat Bale Kulkul dan Wantilan yang dalam arsitektur pura disebutkan candi bentar ini sebagai kori pertama yang berfungsi sebagai pintu masuk ataupun pemedalan pura.
Lebih lanjut Candi Bentar juga sebagai pembatas antara nista mandala dan Madya

Pemedal Pura

Pemedal pura adalah gerbang, baik berupa candi bentar maupun gelung kori. Cara menetapkan pemedal sesuai dengan asta kosala kosali dan asta bumi sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel http://gusde-bentar.blogspot.com, ukuran pemedal pura diukur berdasarkan :
  1. Ukur lebar halaman dengan tali.
  2. Panjang tali dibagi 3.
  3. Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah "as" pemedal.
Dari "as" ini ditetapkan lebarnya gerbang, apakah setengah depa atau satu depa, tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi atau gelung. 

Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini yaitu arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal pura, misalnya: hulu halaman pura ada di timur, maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara, kecuali di utara ada gunung/bukit maka tebennya selatan dst. 

Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menetapkan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.

Tempat Suci

Pura sebagai tempat suci yang disebutkan merupakan replikasi dari makrokosmos sebagaimana dijelaskan dari kutipan babad bali dalam struktur pura pada Samuan Tiga,
sebagai sejarah asal mula adanya Pura Kahyangan Tiga sebagai tatanan kehidupan yang terdapat disetiap desa adat di  Bali hingga pulau ini sampai sekarang dijuluki sebagai Pulau Dewata yang indah dan damai.

Halaman Pura

Halaman Pura adalah lambang Tri Loka yang dalam uraian Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi dalam Babad Bali, disebutkan bahwa bentuk halaman pura sebagai tempat suci hendaknyalah persegi empat sesuai dengan aturan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan,

  • jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya,
    • ukuran panjang atau lebar di sisi kanan - kiri berbeda, sehingga membentuk halaman seperti trapesium, segi tiga, lingkaran, dll.

Sekar Madya