OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Tri Mandala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tri Mandala. Tampilkan semua postingan

Tri Mandala

Tri Mandala adalah panduan dan konsep dasar optimalisasi fungsi tempat suci sebagai pusat pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia secara utuh, menyeluruh dan terintegrasi demi tercapainya kemerdekaan dan kesejahteraan rohani yang sesuai dengan spirit dan maksud yang terkandung dalam konsepsi Tri Mandala tersebut, yaitu :
  • Uttama mandala (area utama), 
  • Madhyama mandala (area tengah) dan 
  • Kanistama mandala (area luar), 
Tempat suci pura hendaknya difungsikan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas suci sesuai ajaran dharma yang memiliki dua dimensi utama, yaitu:
  • Dimensi vertikal, yaitu komunikasi dan hubungan vertikal warga Hindu dengan Brahman/Hyang

Lebuh

Lebuh (“pemesu”; "pemesuan umah";“lawang”; “dwara”) adalah pintu / gerbang keluar masuknya suatu areal pekarangan yang dalam hal ini, rumah tidak bisa dilepaskan dengan konsep Tri Mandala maupun Tri Angga. Konsep itu menjabarkan bahwa hulu teben suatu wilayah atau pekarangan pada dasarnya bisa dibagi atas tiga bagian (Tri Hita Karana) yaitu :
  1. Utama Mandala (wilayah parahyangan) yang termasuk kawasan hulu (suci) dengan posisi dalam “pengider-ider” di arah utara (kaja) atau timur (kangin) atau timur laut (kaja kangin).
  2. Madya Mandala (wilayah pawongan)
  3. Nista Mandala (wilayah palemahan) yang termasuk kawasan teben (profane).
Berpijak pada uraian singkat ini, maka penempatan “lebuh” akan selalu diusahakan berada pada posisi Madya Mandala atau Nista Mandala, suatu wilayah atau kawasan yang memang bersifat profan (tidak suci).

Sekar Madya