OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Aksara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksara. Tampilkan semua postingan

Dasa Aksara

Dasa Aksara (Dasaksara) adalah sepuluh huruf / aksara suci sebagai jiwa dari meru atau bhuwana agung alam semesta ini. Sepuluh huruf suci ini merupakan urip bhuana yang letaknya di 10 penjuru alam semesta termasuk di tengah.

Ke-10 Dasa aksara suci tersebut masing-masing disebutkan sebagai berikut :
  • SA (letaknya di timur, dewanya Iswara dan warnanya putih), 
  • BA (selatan, Brahma, merah), 
  • TA (barat, Mahadewa, kuning) 
  • A (utara, Wisnu, hitam), 
  • I (tengah, campuran), 
  • NA (tenggara, Mahesora, merah muda atau dadu), 
  • MA (barat daya, Rudra, jingga), 
  • SI (barat laut, Sangkara, hijau), 
  • WA (timur laut, Sambu, biru)
  • YA (tengah atas). 

Aksara

Belajar membaca lontar Aksara Bali untuk
menambah 
kecerdasan dan wawasan sejarah
Kata Aksara dalam bahasa Sansekerta artinya yang kekal abadi.

  • a berarti tidak, dan
  • ksara berarti termusnahkan.
Jadi, aksara merupakan sesuatu yang tidak termusnahkan atau langgeng, kekal abadi.

Ini berarti tujuan Tuhan menurunkan Aksara tersebut untuk menyebarkan ajaran suci Tuhan yang kekal dan abadi itu seperti halnya dalam kutipan Babad Bali di Penataran Pura Agung Besakih Mandala 1 disebutkan bahwa,


Swalalita

Swalalita adalah aksara Kawiswara yang dipakai oleh para pengarang-pengarang/penulis-penulis Bali sejak dulu yang  sekilas tentang aksara Bali ini disebutkan bahwa,
Aksara ini dipakai dalam menulis Aksara Bali yang memuat tentang bahasa Jawa Kuna atau sering disebut dengan bahasa Kawi, seperti misalnya menulis Kekawin, Palawakia, Kanda, Tutur, dan sebagainya. 
Selain itu, Aksara Swalalita juga dipakai menulis aksara Bali yang memuat bahasa sansekerta, misalnya menulis Weda, Sloka dan Sruti, Japa Mantra, dan lain-lain.

Namun anehnya, 
jika saja seseorang mengkombinasikan aksara swalalita ini dengan aksara wreastra  akan membentuk aksara wijaksara yang memiliki kekuatan magis dalam spiritual religius.

Wreastra

Wreastra adalah aksara yang biasa digunakan keseharian masyarakat Bali dari jaman dulu untuk menulis dan dipakai untuk menuliskan bahasa Bali umum seperti yang telah dijelaskan babad bali dalam lambang-lambang aksara modre,
aksara wreastra ini juga digunakan misalnya untuk menulis : surat, urak, pipil, pangeling-eling dan lain-lainnya.
Jumlah huruf aksara wreastra ini menurut keterangan yang dikutip dari artikel Bali Post dalam sisi lain simbol ilmu pengetahuan edisi minggu paing 24 juli 2005, aksar wreastra ini terdiri atas 18 aksara misalnya: a, na, ca, ra, ka dll yang secara lengkapnya hurup-hurup suci yang merupakan sumber dari alam semesta ini dalam sebuah artikel Hindu Bali di fb disebutkan yaitu :
1) ha, 2) na, 3) ca, 4) ra, 5) ka, 6) da, 7) ta, 8) sa, 9) wa, 10) la, 11) ma, 12) ga, 13) ba, 14) nga, 15) pa, 16) ja, 17) ya, 18) nya.
Dari masing-masing pertemuan aksara tersebut akan menghasilkan aksara / huruf

Merajah

Merajah atau "ngerajah" adalah prosesi untuk menghidupkan aksara-aksara suci agar dapat memberikan kekuatan positif yang seperti penggunaannya dalam beberapa upacara berikut : 
  • Dalam upacara Panglukatan Panca Gangga Pratistha, Sapta Tirtha Pratistha dan Pawintenan Saraswati sebagaimana dijelaskan Hindu Bali di Fb disebutkan;
    • Para pamilet dihidupkan”aksara-aksara suci” yang berada pada tubuhnya agar memberikan kekuatan positif dalam prosesbrahmacari sang pemilet. 
    • Dalam prosesi pawintenan ini, dipakaikan juga “Semayut”, 
      • sejenis benang tri datu yang dipakaikan di badan untuk mengendalikan perbuatan sang pamilet, 
      • dipakaikan pula “Karawista” dan juga “Kalpika” bertujuan untuk mengendalikan pikiran, 
      • kemudian dirajah di bagian lidah bertujuan untuk mengendalikan tutur

Sapta Ongkara

Sapta Ongkara adalah tujuh tahapan perubahan Brahman dari Nirguna Brahman menjadi Saguna Brahman dalam penciptaanNya melalui kemahakuasaan wibhu sakti Sang Hyang Guru Siwa dengan urutan tahapan sebagai berikut
  1. Parama-Siwa | tingkatan nirguna brahman pada satya loka yang suci nrmala.
  2. Sada-Siwa | tingkatan saguna brahman pada maha loka yang sudah terpengaruh oleh unsur maya.
  3. Sada-Rudra | kekuatan untuk

Modre

Modre adalah simbol, lambang - lambang dan aksara suci yang dipakai untuk menuliskan kadyatmikan, misalnya japa mantra - mantra dan juga yang berhubungan dengan upacara keagamaan, dunia kegaiban dan pengobatan /usadha yang dalam babad bali, lambang - lambang aksara Modre disebutkan termuat dalam lontar krakah / griguh seperti :
  • Tapak Dara ( + ), lambang Sang Hyang Siwa Raditya dalam perkembangan selanjutnya Tapak Dara menjadi Swastika yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Bhuana Agung (Makrokosmos) dan Bhuana Alit (Mikrokosmos),
    • dan dari bentuk Sastika itu timbullah Padma yang berdaun bunga delapan (astadala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi.

Omkara

Omkara (aksara suci Pranawa "OM"; Tri Aksara "AUM") adalah lambang kesucian dari Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa yang biasanya diucapkan diawal setiap mantra seperti saat melantunkan Mantram Puja Tri Sandhya, 
  • Om bhùr bhvah svah, tat savitur varenyam ....
  • ..... Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita.

Tri Aksara

Tri Aksara adalah 3 aksara suci Ang, Ung dan Mang (AUM) sebagai Pranawa "OM" yang mengawali dalam setiap mantra sebagai susunan kata berpengaruh yang sakral sehingga menghasilkan vibrasi energi spiritual.

Vibrasi energi spiritual dari Tri Aksara tersebut sebenarnya disebutkan sebagai bagian dari aksara wijaksara yang diyakini memiliki kekuatan kesucian dan spritual religius dari Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud kesuciannya sebagai Tri Murti dalam pembinaan kehidupan spiritual, yaitu :
  • Tri Kona, pembinaan kehidupan spiritual seluruh umat manusia.
    • A; Ang (Utpatti)
    • U; Ung (Sthiti)
    • M; Mang (Pralina)
  • Sebagai Guna Awatara, Tuhan dalam wujud Tri Murti untuk menuntun

Purusa dan Pradana

Purusa dan Pradana adalah dua unsur alam semesta yaitu : 
Semua makhluk hidup tercipta dari dua unsur tersebut. Demikian juga alam semesta ini berputar sesuai dengan hukum rta karena adanya dua unsur tersebut. 
  • Tuhan sebagai jiwa alam semesta disebut Brahman. 
  • Sedangkan Tuhan sebagai jiwa makhluk hidup disebut Atman.
Dalam konsep Pura Kahyangan Rwa Bineda disebutkan, semua umat manusia agar mengupayakan kehidupan yang seimbang antara kehidupan mental spiritual dan kehidupan fisik material.

Rwa Bhineda

Rwa (Bineda; Bhineda) adalah dua sifat yang berbeda yaitu adanya :
  • siang dan malam,
  • Surya Candra
  • purusa dan pradana
  • Laki dan Perembuan.
  • ada sifat yang baik dan ada yang buruk 
  • benar - salah 
  • positif - negatif, 
  • dua hal berbeda Ang Ah tetapi tetap satu..
  • kiwa tengen;
    • kiri kanan,
    • dharma sakti.
  • dll

Dwi Aksara

Dwi Aksara ("Ang" "Ah") adalah dua aksara suci yang merupakan simbol Rwa Bhinneda, dua aksara yg berbeda tetapi tetap satu yg merupakan manifestasi Tuhan yaitu Purusa dan Prakrti.
  • Purusa sebagai unsur jîwa yaitu atman yg bersifat langgeng, dan 
  • Prakerti sebagai unsur ciptaan-Nya yaitu alam semesta beserta isinya.
Ang dengan Ah juga adalah aksara induk (bapak dan ibu) dimana menurut Siwagama dalam essensi Rwa Bhineda disebutkan bahwa :
  • Ang Ah inilah yang dimaksud dengan Sanghyang Rwa Bhinneda, sebagai induknya aksara alam semesta dan purusa pradana sebagai leluhur.
    • Dimana  dalam perwujudan alam semesta ini disebutkan :
      • Ang adalah angkasa, 
      • Ah adalah perthiwi. 
    • Sebagai asal bapak-ibu yang juga menyandang status Purusa-Pradana sebagaimana disebutkan yaitu :
      • Ang adalah bapak, 
      • Sedangkan Ah adalah ibu. 
Perpaduan dari kedua unsur inilah dalam Dharmasastra3, Dwi Aksara ini juga disebutkan terjadi suatu kehidupan dimana :
  • Dwi aksara yang berawal dari Eka Aksara Ongkara yang pada tahapan berikutnya, dari Dwi Aksara ini muncullah Tri Aksara, yaitu Ang, Ung dan Mang. Dari banyak sumber pustaka, dikatakan bahwa AUM inilah yang mengawali sehingga muncullah pranawa OM yang diucapkan diawal setiap mantra dalam sembahyang sehari-hari.
  • Penggunaan Ang dan Ah ini sebagai aksara wijaksara dalam "Nganteb" banten dengan "Pengastawa" yang menggunakan tetabuhan arak berem disebutkan memiliki kekuatan kesucian yang dalam makna arak berem dalam persembahyangan Hindu Bali dapat dijelaskan sebagai berikut :
Bagi umat Hindu Bali yang belum memiliki kewenangan "Nganteb" banten dengan "Pengastawa" sebagaimana layaknya seorang pemangku, bukan berarti tidak ada cara nganteb yang diperbolehkan. Bagi orang awam atau bahkan bagi orang yang tidak mengenal tulisan tentu saja agak kesulitan untuk ngastawa mempergunakan pujamantra, tetapi bisa dilakukan dengan nyanyian pemujaan seperti kidung wargasari dan lain-lain. Ada juga menggunakan simbol-simbol seperti melakukan "tetabuhan arak-berem".
Hal ini terkait mantra pengastawa sehubungan dengan Tri Kona "Utpeti", "Stiti", dan "Pralina" dengan menggunakan dasar dari sastra Rwa Bhineda "Ang Ah" Dwi Aksara ini.


Memahami Makna Ongkara

Ongkara=Omkara adalah Simbol Suci dalam Agama Hindu. Di dalam Upanisad ongkara atau omkara disebut Niyasa artinya alat bantu agar konsentrasi kita menuju kepada Hyang Widhi, serta pemuja mendapat vibrasi kesucian Hyang Widhi. Niyasa atau sarana yang lain misalnya banten, pelinggih, kober, dll. 
Sebagai simbol suci Niyasa sudah sepantasnya digunakan atau diletakkan pada tempat yang wajar karena disucikan. Pada beberapa kasus di Bali simbol-simbol Hindu pernah digunakan tidak pada tempatnya misal: penggunaan canang sari dengan bola golf diatasnya pada foto

Wijaksara

Wijaksara adalah aksara, huruf, suku kata; suku kata suci yang diyakini memiliki kekuatan kesucian, kekuatan magis, kekuatan magnetis, niskala, dan spiritual religius yang terdiri dari :
Penggunaan aksara suci dalam kajang yang digunakan saat upacara ngaben pada dasarnya juga bersumber dari wijaksara/bijaksara ini yang dalam kutipan aksara

Aksara Suci

Aksara Suci adalah simbol - simbol komunikasi dalam susunan aksara tertentu yang dapat memberikan kekuatan positif dalam hal spiritual kerohanian dan keagamaan.

Beberapa hal tentang penggunaan aksara / huruf suci yang biasa digunakan untu Hyang Widhi yang dilambangkan dengan aksara "huruf" suci yaitu sebagai berikut :
Ongkara sebagai aksara panunggalan Hyang Widhi yang merupakan bagian utama dari aksara wijaksara.
Aksara Suci : Sa Ba Ta A I, sebagai Sang Hyang Panca Maha Bhuta, sebagaimana disebutkan :

"Berbahagialah Engkau para binatang, semua yang bergerak, kumratap-kumritip (semua mahluk dari semut hingga monster) dan segala yang hidup, segala yang tumbuh, aku manusia yang akan meruwat-Mu, mengubah menjadi kebaikan, dan menebus dosaku yang telah membunuh, suatu saat apabila

Eka

Eka (Ekam; Eko; Ika; Eva; Evam) adalah 1 (satu) esa yang dalam eka wara memiliki urip = 1, ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa, 

  • ia hanya esa (satu atau tunggal) 
  • ia tidak dibayangkan dua atau tiga dan semua Bhatara - Bhatari itu adalah Bhatara Siwa, Hyang Widhi itu sendiri.
Dalam Widhi Tatwa disebutkan “EKAM EVAM ADWITYAM BRAHMAN”

Sekar Madya