OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Simbul Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Simbul Agama. Tampilkan semua postingan

Orti

Orti adalah simbol komunikasi yang sebagai permohonan dalam perlengkapan upacara dalam pemakuhan atau pemlaspasan.

Masing - masing orti mengandung makna dan arti yang sebagaimana dijelaskan dalam sarana upacara umat hindu, orti dibuat dari daun rontal tua dengan arti masing - masing simbol sebagai permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu :
  • Orti bagia sebagai simbol permohonan kebahagian lahir bathin.
  • Orti pulu sebagai simbol permohonan amerta / kesejahteraan.
  • Orti kerang melok sebagai simbol permohonan keteguhan iman.
  • Orti beringin sebagai simbol permohonan untuk perlindungan dan kecerdasan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi.

Jerimpen

Jerimpen adalah simbol permohonan kehadapan Tuhan beserta manifestasiNya (Asta Aiswarya) agar Beliau memberikan keputusan berupa anugrah baik secara lahiriah maupun bathiniah sebagaimana disebutkan dalam makna banten jerimpen dalam mengenal dan memahami ajaran hindu, oleh karena itu jerimpen, dijelaskan juga
selalu dibuat dua buah dan ditempatkan di samping kanan dan kiri dari banten lainnya, memakai sampyan windha, windha berasal dari kata windhu yang artinya suniya (sunia), dan suniya diartikan alam sunia

Cane

Cane adalah untuk memohon agar pertemuan berjalan lancar yang berbentuk seperti gebogan tetapi sekelilingnya dihiasi dengan bunga berwarna warni.
Cane dibuat dengan sebuah dulang kecil dihiasi dengan sesertiyokan dari janur yang ditengah-tengahnya ditancapkan batang pisang. 
Disekitarnya diisi perlengkapan lain seperti: Bija, Air cendana dan burat wangi, masing-masing dialasi dengan empat buah tangkir atau mangkuk kecil. 

Canang

Pengertian dan filosofi dari Canang | Berasal dari bahasa jawa kuno yang pada mulanya berarti sirih, yang disuguhkan pada tamu yang sangat dihormati. 
  • Jaman dulu, sirih benar – benar bernilai tinggi. 
  • Setelah agama Hindu berkembang di Bali, 
    • sirih itupun menjadi unsur penting dalam upacara agama dan kegiatan lain.
Di Bali, salah satu bentuk banten disebut “Canang” karena inti dari setiap canang adalah sirih itu sendiri.

Gebogan

Gebogan adalah susunan raka-raka berupa buah dan jajanan yang dihaturkan ke hadapan Hyang Widhi sebagai rasa syukur atas rejeki yang kita nikmati demikian disebutkan dalam kutipan keterangan gebogan | Flickr - Photo Sharing.
  
Gebogan atau Pajegan yang juga disebut sebagai aturan rayunan dibuat sebagai persembahan yadnya untuk bersyukur serta memohon prana/prani sehingga setelah mendapat anugrah kembali kita nikmati, itulah perkembangan jaman,  
apa yang kita makan,
itulah yang kita persembahkan Kepada Tuhan

Banten gebogan itu ada makna filisofinya juga karena bentuknya yang menjulang mirip seperti gunung, makin keatas makin mengerucut (lancip), dan diatasnya juga diletakkan canang dan sampiyan sebagai wujud persembahan dan bhakti kita kehadapan Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

Gegantusan

Gegantusan merupakan perpaduan dari isi daratan dan lautan, yang terbuat dari kacang-kacangan, bumbu-bumbuan, garam dan ikan teri yang dibungkus dengan kraras/daun pisang tua adalah lambang sad rasa dan lambang kemakmuran demikian disebutkan dalam"yadnya patni"; daksina.

Dalam tetandingan banten, gegantusan (gantusan) itu terdiri dari 3 contong yg disemat jd satu,

  • Contong pertama isinya pon-2 (bumbu dapur) yg dirajang halus lalu dijemur kering diisi sekebit aja lalu contong dilipat bagian atasnya kiri dan kanan shg menyerupai layangan (lebih baik memakai daun pisang kering/kraras utk contong), 
  • Contong kedua diisi ikanteri yg digoreng kering lalu ditumbuk sedikit, 
  • Contong yg ketiga diisi serundeng kelapa yg ditumbuk, 
Ketiga contong yg sdh dilipat mirip layangan itu lalu disatukan dg semat atau diikat dg tali kecil-2. Buat yg banyak, shg setiap buat banten pejati bisa digunakan lagi demikian disebutkan dalam beberapa komentar Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara.

Bunga

pada gambar untuk mendownload Koleksi Wallpaper Gambar-gambar Bunga ...Bunga (kembang; sekar; puspa) yang digunakan sebagai sarana sembahyang dan upacara yadnya disebutkan adalah lambang kesucian, sehingga bunga yang baik sebagai sarana persembahyangan dan persembahan diusahakan bunga seperti berikut :
  • Segar, 
  • Bersih, dan 
  • Harum, 
yang sebagaimana juga dijelaskan dalam kutipan artikel kramaning sembah dalam parisada, ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang, menurut Agastyaparwa, bunga-bunga tersebut seperti berikut: 

Porosan

Porosan adalah lambang Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sebagai simbol Tri Murti. Sirih yang di dalamnya dilengkapi dengan kapur dan pinang.

Porosan ini merupakan bagian dari setiap canang sebagai perlengkapan dari yadnya, segehan maupun banten.

Adapun makna - makna atau lambang dari penggunaan sirih, kapur dan pinang tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
  1. Pinang, berwarna merah adalah lambang dari Dewa Brahma.
  2. Sirih, berwarna hijau adalah lambang Dewa Wisnu.
  3. Kapur, berwarna putih adalah lambang dari Dewa Siwa.
Dikutip dari : Artikel Segehan dalam blog Bhujangga Dharma Indonesia. 
    Demikian pengertian, lambang dan makna dari porosan tersebut.

    Kojong

    Kojong adalah simbol ardha candra sebagaimana disebutkan dalam makna Banten & Canang Sari di dalam persembahyangan umat Hindu di Bali, yang mana dalam kawangen terbuat dari daun pisang atau janur yang berbentuk krucut.

    Kojong dalam beberapa tetandingan banten juga disebutkan terbuat dari dedaunan yang alami seperti penggunaan dalam :

    Ceper

    Ceper adalah simbol dari ardha candra sebagaimana disebutkan Dewi Bulan Sang Hyang Ratih dalam dalam artikel paris sweet home, ceper yang merupakan lambang dari swastika sebagai dasar kekuatan dan kesejahteraan Bhuana Agung atau macrocosmos danBhuana Alit atau Microcosmos yang dalam tetandingan banten, diatas ceper terdapat :
    • raka - raka dari tanaman sebagai simbol hasil bumi.
    • Porosan yang selain sebagai lambang Tri Murti, juga disebutkan melambangkan Tri Pramana yaitu sabda, bayu, idep. 
    • Duras sebagai simbol dasar kekuatan dan perputaran alam ini yang disusun dengan bunga-bunga sebagai lambang 
      • keharmonisan alam, 
      • kesucian, 
      • kedamaian abadi dan 
      • keindahan surgawi. 

      Plawa

      Plawa adalah lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, maksudnya dalam memuja Hyang Widhi;

      Sedangkan, sebagai plawa Sanggar Tawang sebaiknya digunakan lima jenis taru Panca Vriksha sebagai nyasa Sorga (Kedewatan) yang di pindahkan ke bhumi ini.

      Tamas

      Tamas atau Tamak adalah simbol sifat manusia yang memberi pengaruh malas, pasif dan masa bodoh yang perlu dinetralisir untuk dapat mengantarkan seseorang menuju pada kesuksesan hidup yang dalam pengertiannya disebutkan sebagai berikut :
      • Tamas yang diletakkan sejumput beras sebagai simbol penggunaannya pada Banten Pras dalam berbagai upacara yadnya bertujuan untuk dapat menetralisir salah satu sifat tri guna ini,
        • yang dalam komposisi idial maka keseimbangan tersebut akan menjadi kekuatan luar biasa untuk

      Kajang

      Kajang adalah angkeb (penutup atau pelindung) dalam upacara ngaben yang memiliki makna simbolis dari lapisan yang membungkus Sang Atman sebagai Tri Sarira,
      Kajang ini, ibarat seperti layaknya KTP atau identitas, dengan tujuan agar menghantar atman (Roh manusia) kepada leluhurnya (dalam Lontar Wrespatti tattwa).
      Bentuk dan jenis surat kajang berbeda-beda sesuai dengan Kawitannya (referensi dan penggunaannya ada pada masing - masing "Bhisama Kawitan").

      Bahan kajang adalah kain berwarna Putih seukuran 120 x 200 cm (simbol badan kasar) yang berisikan rajahan (surat/tulis kajang sebagai simbol rohani) yang secara spesifik (sesuai

      Reringgitan

      Reringgitan (atau Jejahitan; Tetuasan) adalah ukir - ukiran dedaunan (atau rwan seperti ron, don dll) sebagai suatu simbol yang memiliki nilai religius dan nilai seni yang tinggi dalam tetandingan banten;
      • Dirangkai dengan semat, tiying yang dibilah kecil dibuat dalam bentuk simbol dan istilah dari Daiwi Wak sebagai bahasa alam yang digunakan pada setiap upakara yadnya (banten);
      • sehingga kita selalu ingat dan selalu dapat berhubungan dengan sang pencipta, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasiNYa.
      Reringgitan, tatuwasan dan ukir-ukiran pada banten ini juga berfungsi sebagai lambang banten, bahasa agama dalam bentuk symbol dalam kesungguhan pikiran untuk melakukan Yadnya.

      Endongan

      Endongan (salunglung) adalah sebagai lambang kebijaksanaan, etika dan peraturan dalam satu wadah sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi dalam merayakan hari raya kuningan yang biasanya dilengkapi dengan tamiang dan molem/pipid.

      Endong/salunglung dijaman sekarang seperti halnya tas/ransel dilengkapi dengan segala perbekalannya yang dalam salah satu kutipan komentar dalam foto Group Fb, FDJHN disebutkan bahwa endongan tersebut isinya; 
      • nasi dengan warna kuning sebagai simbol kemakmuran, dilengkapi dengan
      • urutan (kebijaksanaan+etika/peraturan).
      • dll
      Kebijaksanaan, pengetahuan, etika dan hukum sebagai pelindung manusia atau masyarakat inilah makna yang diperoleh dari simbol perang dharmamelawan adharma selama 10 hari (Galungan, buda dunggulan s/d sukra kuningan yaitu kalahnya 10 indriya.

      Tamiang

      Tamiang adalah sebagai simbol pelindung dan juga senjata dari Dewata Nawa Sanga sebagai lambang perputaran roda kehidupan, cakraning panggilingan untuk mengingatkan pada hukum alam (rta). Artinya, jika masyarakat tidak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau taat dengan hukum alam sudah pasti akan tergilas roda kehidupan, bahaya berupaya bencana alam dan kerusakan alam. 

      Biasanya, tamiang dipasang di pojok rumah dan di pelinggih yang pada dasarnya, bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan ini adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana). 

      Sedangkan, senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Karena dengan ketenangan pikiran tidak akan dapat dikalahkan oleh senjata apapun.Ikang manah pinaka witing indria yang berarti pikiran itu sumber dari indria. “Ini artinya, senjata pikiranlah yang paling ampuh dan utama dalam menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan globalisasi kekinian yang serba teknologi canggih. Demikian disebutkan dalam kutipan artikel Metro Bali, Kuningan, Jaga Hati dan Pikiran untuk Taksu Bali.

      Tabuh Rah

      Tabuh Rah adalah simbolisasi nyupat bhuta kala sebagainmana disebutkan artikel agama hindu tentang siwa siddhanta yang memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin.

      Dalam Lontar Siwa Tattwa Purana sebagaimana juga dijelaskan pada dokumen Forum Diskusi Jaringan Hindu Nusantara di Facebook,

      “…..mwah ring tileming kesanga, hulun megawe yoga, teka wang ing madyapada magawe tawur kasowangan, den hana pranging sata, wenang nyepi sadina ika labain sang Kala Dasa Bhumi; yanora samangkana rug ikang ning madhyapada………”

      Syarat-syarat tabuh rah menurut kesimpulan komisi 2 seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama

      Penjor

      Penjor adalah lambang pertiwi bhuwana agung, alam semesta kita ini dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. 

      Hiasan-hiasan merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan

      Sekar Madya