OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Yadnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yadnya. Tampilkan semua postingan

Nyineb

Nyineb adalah acara penutup sebagai kegiatan akhir yang dalam setiap upacara yadnya ataupun piodalan juga disebut dengan upacara ngebekin dan nyenuk yang disebutkan dianaclaim dalam upacara agama Hindu yaitu :
Suatu penghayatan atas apa yang sudah dilakukan dan melepaskan diri dari keterikatan, dengan jalan mempersembahkan segala sesuatu dalam bentuk upakara dan upacara, 
serta mengembalikan (ngaturin) beliau agar kembali ketempatnya masing-masing yaitu : 
dengan menutup (nyineb) upacara yang telah dilaksanakan.
Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara Ngelebar Ida Bhatara yang dalam budaya Bali, untuk banten piodalan madya di merajan alit sebagai acara pemuput atau terakhir.

Mudra

Mudra adalah sikap atau gerak - gerik tangan dan jari sebagai sesana pinandita dalam pemujaan yaitu tanpa keinginan untuk dapat bergerak dalam melantunkan mantra puja astawa pada suatu upacara yadnya.

Di Bali sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel suluh kehidupan, mudra ini berasal dari akar kata mud yang berarti "membuat senang" dan dalam bentuk

Dewa Yadnya

Dewa atau Widhi Yadnya adalah upacara agama hindu dalam hal persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sehingga dewasa ayu atau hari yang baik dan hari yang harus dihindari dalam upacara ini sangat penting untuk ditinjau.

Menurut kalender Bali Digital, sebagai contoh dalam dewasa bulan Desember 2011 yang dapat dijabarkan dalam ala ayuning dewasa yaitu sebagai berikut :

Hari yang dipakai: Amerta Akasa, Amerta Buwana, Amerta Dadi, Amerta Dewa, Amerta Dewa Jaya, Amerta Masa, Amerta Pageh, Amerta Wija, Ayu Dana, Ayu Nulus, Buda Gajah, Buda Ireng, Buda Suka, Dewa Stata, Dewa Werdi, Dewasa Mentas, Dewasa Ngelayang, Werdi Suka, Wredhi Guna.

Pitra Yadnya

Pitra yadnya adalah upacara penghormatan dan kewajiban suci kepada para leluhur termasuk kepada orang tua kita yang telah meninggal dunia sehingga nantinya beliau masih tetap dapat terhubung;
Sehubungan dengan kelahiran kita serta perhatiannya semasa hidup kita; 
Dan juga sebagai kewajiban pitra rna yang harus dibayar oleh umat manusia.

Nyekah (Nyekar)

Nyekah (atau disebut juga dengan Nyekar) adalah upacara yang bertujuan untuk memutuskan ikatan atma roh leluhur dari unsur Panca Maha Butha dan Panca Tan Matra dalam rangkaian dari upacara atma wedana dimana

Yadnya

Upacara Yadnya / Adat yang telah lama ada;
  • Dilakukan dari generasi ke generasi;
  • Sebagai warisan leluhur;
Dan di era Globalisasi ini, yajna disebutkan tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upācara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang dan keikhlasan.
    Seperti halnya Panca Yadnya sebagai persembahan suci dengan berbagai bentuk banten untuk kerahayauan semua mahluk dan alam ini.
    Dan "amatlah meriahnya upacara yadnya yang suci itu, ketika diiringi suara - suara Panca Nada yang bergema"
    Vibrasinya akan bergetar secara simultan dalam diri individu dan pada sistem kosmik alam ini.

    Caru

    Caru adalah kurban suci yaitu upacara yadnya yang bertujuan untuk keseimbangan para bhuta sebagai kekuatan bhuwana alit maupun bhuwana agung sebagaimana disebutkan dalam kanda pat butha sehingga dengan adanya keseimbangan tersebut berguna bagi kehidupan ini.

    Caru yang dalam sejarahnya disebutkan diawali dari terjadinya kekacauan alam semesta yang mengganggu ketentraman hidup sebagai akibat dari godaan-godaan bhuta kala, sehingga Hyang Widhi Wasa menurunkan Hyang Tri Murti untuk membantu manusia agar bisa menetralisir dan selamat dari godaan-godaan para bhuta kala itu sehingga mulailah timbul banten “Caru” sebagaimana disebutkan dalam mitologi caru ini. 

    Tetandingan Banten

    Tetandingan Banten atau bebantenan merupakan reringgitan dedaunan, tata letak, posisi dan bahan - bahan yang digunakan sebagai bagian dari sebuah yadnya (banten), 
    dan dengan seluruhnya terbuat dari hasil bumi sehingga ekonomi kerakyatanpun akan menjadi semakin tumbuh dan berkembang.
    Dari rangkaian bunga, buah-buahan, sanganan dan daun-daunan yang indah ini, juga memiliki kesucian yang sakral dan hendaknya juga disebutkan sebelum menjadi persembahan diperciki terlebih dahulu dengan tirtha pabersihan sebagai pemberi urip yang mampu memberikan jiwa kepada bebantenan tersebut.

    Panca Yadnya

    Panca Yadnya adalah lima macam yadnya atau persembahan suci, 
    yaitu sebagai pelengkap dari ajaran Bhakti Marga / Bakti Yoga.

    Karena selain diri kita sendiri, alam semesta ini juga berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna.

    Sehingga tidak hanya manusia yang memiliki tingkatan - tingkatan spiritual, tapi alam sekitar lingkungan kita juga.

    Ketika kita melakukan persembahan, vibrasi sattvam yang muncul dari persembahan akan mengurai vibrasi unsur rajas-tamas di alam semesta ini.

    Benang

    Penggunaan benang sebagai simbol suci tali pengikat dalam proses kehidupan yang pada upacara yadnya dan tetandingan banten sebagaimana disebutkan,
    • Benang putih,
      • yang diikat di pergelangan tangan kanan saat otonan, sebagai simbol agar hati kita selalu di jalan yang lurus/benar dalam kehidupan ini.
      • dalam Mabeakala saat upacara pawiwahan, benang papegat yang berwarna putih sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya menuju Grehasta Asrama.
    • Benang Tri datu sebagai simbol ikatan akan tiga perjalanan hidup di dunia ini.

    Sekar Madya