OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Upacara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Upacara. Tampilkan semua postingan

Upacara Dalam Membangun Rumah Baru

Upacara yadnya dalam membangun / mendirikan rumah dalam asta kosala kosali arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali disebutkan pentingnya ala ayuning dewasa dan tetandingan banten yang terkait yaitu :
  • Dewasa Membangun Rumah.
  • Dewasa Ngeruwak. Wewaran : Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi. Sasih: Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa.
  • Nasarin. Watek: Watu. Wewaran: Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi. Sasih: Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem.
  • Nguwangun. Wewaran: Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
  • Mengatapi. Wewaran : Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus,

Mendem Pedagingan

Mendem atau Mulang Pedagingan adalah upacara yadnya untuk memfungsikan dan menghidupkan bangunan atau pelinggih -pelinggih suci pada sebuah pura yang merupakan upacara inti dari Ngenteg Linggih sebagaimana disebutkan dalam kutipan teks darmawacana  ngenteg linggih oleh Bpk. I Made Titib yang dijelaskan upacara mendem pedagingan ini
dilaksanakan setelah upacara pamelaspasan dan suddha bhumi akan dilaksanakan upacara mendem pedagingan sebagai lambang singgasana Hyang Widhi yang disthanakan.
Bentuk serta jenis pedagingan antara satu Pelinggih dengan Pelinggih yang lainnya tidak sama - hal ini tergantung dari jenis bangunan Pelinggih yang bersangkutan, termasuk jenis tetandingan banten dalam upacara ini juga ada yang berbeda. 

Upacara Pemlaspasan

Pemlaspasan ("Pemelaspasan"; "mlaspas"; "melaspas") adalah upacara untuk mensucikan sesuatu yang baru baik berupa benda ataupun bangunan baru;
Dimana yang kesemuanya dilaksanakan bertujuan agar diberikan keselamatan dan kebahagian lahir bathin bagi penggunanya.
    Upacara Melaspas ini disebutkan juga sangat penting dilaksanakan berkaitan dengan indik karya agung mamungkah dan ngenteg linggih yang bertujuan untuk membersihkan semua pelinggih dari kotoran tangan undagi (para pekerja bangunan) agar para Dewata/Bhatara-Bhatari berkenan

    Ngenteg Linggih

    Upacara Ngenteg linggih adalah upacara yadnya atau karya yang ditujukan untuk mengukuhkan kembali kedudukan atau linggih Niyasa tempat suci sebagai  pemujaan Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, baik berupa padmasana, sanggah pemerajan ataupun pura setelah selesai dibangun.

    Upacara ini berisikan runtutan ritual dari tanah ditemukan, mohon ijin penggunaaan lahan, mecaru, melaspas.... hingga mendem pedagingan atau melinggihkan Ida Bethara dan nyineb.
    • Untuk pura yang baru dibangun seyogyanya melakukan upacara ini.
    • Sedangkan untuk Pura yang sudah cukup tua Tidak ada paksaan untuk melakukan upacara ngenteg linggih, namun jangan lupa Pura yang sudah berdiri 10 tahunan tentunya telah mengalami berbagai perubahan, mungkin ada renovasi, ada penambahan pelinggih dll.

    Pagedong - Gedongan

    Pagedong - Gedongan adalah upacara untuk mensucikan sthula sarira yang dilaksanakan pertama kali sejak tercipta sebagai manusia.

    Upacara pegedong - gedongan ini sebagai salah satu dari manusa yadnya pada saat janin dalam kandungan atau masa kehamilan ibu berusia 6 bulan kalender bali yang sebagaimana disebutkan Ida Pandhita Mpu dalam artikel forum diskusi jaringan hindu nusantara, upacara manusa yadnya ini selambat-lambatnya dilaksanakan 
    pada saat bayi dalam kandungan kandungan berumur 7 bulan, yang bertujuan untuk menyucikan janin dalam kandungan, agar nantinya terlahir anak / putra yang Suputra. 
    Upacara Pagedong-gedongan di laksanakan setiap terjadinya suatu kehamilan pada si ibu.

    Ngeringkes

    Ngeringkes atau Ngelelet adalah upacara yang bertujuan untuk pengembalian atau penyucian asal mula dari manusia yaitu berupa huruf2 / aksara suci yang harus dikembalikan lagi sebagai bagian dari upacara ngaben yang dalam sumber kutipan tata cara indik ngaben disebutkan : 
    sewaktu manusia lahir diberi kekuatan oleh Sang Hyang Widhi berupa Ongkara Mula, 
    didalam sawa nantinya bermanifestasi menjadi SastraMudra, Sastra Wrestra (Nuriastra) dan Sastra Swalalita. 

    Upacara Rsi Gana

    Rsi Gana adalah persembahan untuk menetralisir kekuatan alam yang dapat mengganggu areal pekarangan dan pemujaan yang pada saat melaksanakan Karya Agung Mamungkah dan Ngenteg Linggih disebutkan :
    Bhatara Gana sebagai putra Dewa Siwa dengan sakti-Nya Dewi Parwati yang berfungsi sebagai Dewa Pemusnah rintangan. Dalam dasa nama, Dewa Gana disebut juga Awigneswara (Raja Pemusnah Rintangan). 
    Caru Rsi Gana bukan caru yang dipersembahkan kepada Dewa Gana, tetapi Bhuta kala, 
    Namun Dewa Gana dimohon kehadiran serta anugerah-Nya untuk mengubah kekuatan Bhuta Kala, yang cenderung merusak, menjadi kekuatan welas asih, yang melindungi serta memberikan kebahagiaan. 

    Jatakarma Samskara

    Jatakarma Samskara adalah upacara untuk menyambut kelahiran seorang anak sebagai cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, kebahagiaannya sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel scribd.com, upacara terutama disebabkan beberapa hal antara lain :
    • Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat.
    • Hutang Tri Rna kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.
    Sarana dan pelaksanaanya dijelaskan sebagai berikut :

    Memukur

    Memukur; "Mamukur" adalah rangkaian dalam upacara atma wedana setelah upacara ngaben yang sebagaimana disebutkan dalam kutipan jenis dan makna tirta pengabenan dijelaskan bahwa
    memukur artinya prosesi upacara atman menuju alam atas, yakni upacara peningkatan kesucian arwah menjadidewa pitara ke alam swah-loka.

    Ngaben

    Ngaben (Pelebonan; Pengabenan; Sawa Wedana) disebutkan adalah upacara pensucian atman atau roh orang yang telah meninggal dunia untuk mengembalikan unsur unsur yang melekat dalam badan kasar dan halus dari roh bersangkutan. 

    Secara riil mayat di bakar dengan api sedangkan secara niskala dibakar dengan api suci kekuatan dari puja mantra Ida Sulinggih yang muput dan sering di sebut sebagai Agni Pralina selanjutnya dilakukan prosesmemukur untuk pensucian atman tingkat lanjut.

    Tujuan Upacara Ngaben ini : 
    • mempercepat pengembalian unsur - unsur dari panca maha butha yang ada dalam diri manusia kepada asalnya atau ke sang pencipta, Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa
    • menyelamatkan Manusia dan habitatnya; menuju Jagadhita dan moksa.

    Piodalan

    Piodalan adalah wujud bhakti sebagai usaha untuk mencapai jagadhita yang dalam babad Bali, piodalan juga disebut sebagai :
    • petirtayan, 
    • petoyan, dan 
    • puja wali 
    Piodalan yang utamanya sebagai kelompok upacara dewa yadnya ini merupakan upacara yang ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya yang pujawalinya dipimpin oleh seorang pemangku di tempat suci masing - masing dengan cara :
      • nglinggayang atau 
      • ngerekayang (ngadegang) 
    • dalam hari - hari tertentu yang dilaksanakan dengan sembahyang bersama.. 

    Sembah

    Sembah adalah sujud atau sungkem, yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan.
    Misalnya dengan sikap kramaning sembah dalam pemusatan pikiran yang dilakukan dalam pelaksanaan sembahyang kehadapan Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.
    Sembah yang juga berarti menghormati sebagaimana disebutkan kita hendaknya juga selalu dapat menghormati 4 guru yang disebut catur guru,
    karena melalui ajaran-ajaran dan nasehat-nasehat Beliaulah kita dapat mencapai kesempurnaan dan kesucian batin.
    Sebagai tambahan, dalam sumber kutipan Om

    Upacara Yadnya

    Upacara Yadnya / Adat yang telah lama ada;
    • Dilakukan dari generasi ke generasi;
    • Sebagai warisan leluhur;
    Dan di era Globalisasi ini, yajna disebutkan tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upācara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang dan keikhlasan.
      Seperti halnya Panca Yadnya sebagai persembahan suci dengan berbagai bentuk banten untuk kerahayauan semua mahluk dan alam ini.
      Dan "amatlah meriahnya upacara yadnya yang suci itu, ketika diiringi suara - suara Panca Nada yang bergema"

      Upacara

      Upacara adalah penghormatan dan perayaan yang dilaksanakan untuk dapat menghubungkan diri dengan banyak hal.

      Dimana di Bali disebutkan, bahwasanya untuk dapat menghubungkan antara manusia dengan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta beserta manifestasiNYA agar dapat menjadikan manusia itu memiliki budi pekerti yang luhur dan memiliki sifat kedewataan dilakukan umat Hindu dengan melaksanakan upacara yadnya yang beragam banyaknya.


      Memunjung

      Memunjung adalah sarana bhakti anak terhadap guru rupaka yaitu merupakan salah satu tradisi di Bali yang bertujuan untuk :
      • mempererat tali persaudaraan
      • saling dapat mengingatkan, 
        • bahwa mereka masih bersaudara.
      Memujung dalam pelaksanaannya dilakukan keluarga secara bersama - sama dengan cara membawa sodan punjung kerumahnya kembali yang dilaksanakan pada saat hari raya tertentu,

      Beberapa jenis punjung dalam kutipan artikel sutagiri, punjungyang dibawa pada hari tertentu yaitu :
      • Punjung harian, 
      • Punjung rerahinan (piodalan ataupun hari raya), 
      • Punjung yang dibawa pada hari tertentu kepada para leluhur. Biasanya dibawakan punjung pada hari rerahinan di setra. 
        • Di sana yang membawa punjung kemudian secara bersama-sama menikmati punjung di setra. 
        • Dan kalau misalnya tak sempat membawa punjung tersebut, maka punjung tersebut dipersembahkan di rumah di bale delod atau bale dangin, dan biasanya memunjung di bawah, sesuai dengan statusnya masih dikubur atau belum diaben. 
          • Dari sini sang pitra dipanggil dengan menyebut namanya atau sebutan lain, diharapkan untuk bisa pulang sejenak menikmati persembahan  punjung yang disuguhkan kepadanya dengan harapan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di alam sana.
      Punjung yang dibawa hendaknya juga disebutkan dilengkapi dengan canang dan dupa, sebagai wujud,
      • Sarana penyucian bahwa agar yang dihaturkan tersebut memiliki kesucian, termasuk juga kalau misalnya para leluhur yang tak sempat hadir pulang ke rumah,
      • Agar sari-sari atau amerta dari punjung tersebut sampai kepada para leluhur semunya dimanapun berada, sehingga leluhur menjadi senang dan berkenan. 
      Dalam tradisi - tradisi budaya Bali, memunjung yang dilaksanakan sebagai ikatan yang mempererat tali persaudaraan dalam beberapa kutipan dijelaskan,
        • Oleh seorang perempuan yang sudah menikah keluar, 
        • Dijalankan secara terus menerus semampu menjalankannya. 
        • Tidak peduli orang tua atau sang anak sudah tidak ada lagi. 
        • Tradisi memunjung ini akan dilanjutkan dan diteruskan oleh anak cucunya.
      • Biasanya keluarga yang masih hidup akan mendatangi setra 
        • dengan membawa persembahan yang agak lumayan besar. 
        • Kemudian seluruh keluarga yang ikut makan bersama-sama, seakan - akan masih eksisnya mereka dengan para leluhur yang telah tidak berwujud fisik.
      • Hubungan pun masih tetap dijalin agar baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada untuk bisa saling menjaga dan mendoakan satu dengan lainnya.

      Adat

      Adat adalah ciri khas suatu desa maupun daerah tertentu di nusantara sebagai gagasan dari suatu kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah tertentu yang oleh rizqidiaz dalam pengertian budaya, kebudayaan, adat istiadat dan kebiasaan sebagaimana disebutkan bahwa :
      Sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. 
      Melalui sebuah tradisi dengan adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, 
      Karena tanpa adanya pelestarian seperti ini, suatu tradisi, adat dan budaya sebagai ciri khas suatu daerah disebutkan akan dapat punah.
      Seperti halnya tertulis dalam Lontar, tradisi intelektual Bali yang juga nyaris punah sebagai wujud warisan budaya, 
      teks - teks kuno tersebut jelas-jelas menunjukkan adanya tradisi intelektual (keberaksaraan, keterpelajaran) yang dimiliki masyarakat Bali sejak zaman dulu. 
      Tradisi intelektual bagi sebuah masyarakat merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga yang perlu dilestarikan dengan adanya adat seperti kelembagaan yang ada saat ini.
      Adat di daerah Bali pada khususnya juga disebutkan : 
      • keberadaan lembaga-lembaga adat tersebut seperti halnya desa adat secara sosiologis masih dipelihara oleh masyarakat desa (krama) adat sebagai perwujudan budaya bangsa yang perlu diayomi dan dilestarikan.
      • Sebuah tradisi memunjung dari generasi ke generasi dalam hal mempererat tali persaudaraan untuk saling dapat mengingatkan yang dilaksanakan pada saat hari raya tertentu,
      Dengan adanya filosofi menyama braya yang bersumber dari sistem nilai budaya dan adat istiadat masyarakat dengan menjalankan norma dan menghormati segala perbedaan dresta yang ada sebagai pedoman dalam hidup bermasyarakat 
      sehingga terciptalah kerukunan antar desa adat seperti yang telah dicita-citakan untuk kebahagiaan setiap orang, masyarakat, maupun negara dalam adat budaya masing-masing.

      Sumber : SejarahHariRayaHindu 

      Sekar Madya