OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tampilkan postingan dengan label Sang Hyang Widhi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sang Hyang Widhi. Tampilkan semua postingan

Wisnu Murti

Wisnu Murti (Memurti) adalah perwujudan Wisnu yang membesar dan angker wujudnya namun bermakna kedamaian. 

Sebagai dewa pemelihara dalam Tri Murti, Dewa Wisnu selalu memelihara ciptaan Tuhan dengan sangat tekun. Dalam hal manusia berbuat banyak kesalahan maka nasehat-nasehat Beliau sebagai dewa bisa saja keras dan puncaknya dengan “kemarahan untuk kedamaian” dan itulah yang disebut “memurti” yang sebagaimana dijelaskan aguzblonkerz dalam artikel "Kata Mutiara Baru", disebutkan; 
  • Beberapa kali Wisnu “memurti”, yang tak lain dimaksudkan untuk mengembalikan alam ciptaan Tuhan maupun dari nafsu-nafsu buruk manusia.
  • Jiwa dari Wisnu Murti itu sebenarnya dimaksudkan semoga masyarakat bisa terus memelihara alamnya dan jangan sampai Wisnu jadi “memurti”.

Sang Hyang Tri Purusa

Sang Hyang Tri Purusa adalah Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa, memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa - jiwa agung alam semesta untuk seluruh lapisan Tri Loka;
  • Purusa artinya jiwa atau hidup, sebagaimana yang disebutkan dalam filsafat siwa siddhanta dengan penggunan media sakral Tri Lingga sebagai pemujaan yang intinya untuk mencapai moksa;
  • Tercapainya kebahagiaan di alam ini dan di akhirat kelak dimana disebutkan :
    • Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, 
    • Tuhan Sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa
    • Tuhan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa. 

Bhoma

Bhoma ("boma") adalah putra dari Dewa Wisnu dengan Dewi Pertiwi sebagaimana yang disebutkan dalam representasi gambaran alam pada perwujudan arsitektur padmasana di bali, Bhoma dalam mitologi pemutaran gunung mandara giri yang dalam kisahnya diceritakan :

Suatu ketika Dewa Wisnu sedang mengubah diri menjadi seekor babi hutan serta menggali tanah mencari pangkal lingga milik Dewa Siwa hingga ke dasar bumi.

Dewata Nawa Sanga

Dewata Nawa Sanga adalah para Dewa Nawa Sanga yang mengisi delapan penjuru mata angin dengan Siwa sebagai penguasa berada ditengah-tengahnya yang sebagaimana disebutkan sebagai salah satu perwujudan simbol pemimpin dalam Loka Pala agar alam semesta ini menjadi stabil.
Dimana setiap arahnya merupakan perpaduan dari Panca Dewata beserta panca aksara sucinya sebagai karunia Tuhan tersendiri dalam menyelamatkan jiwa dari belenggu pikiran dan samsara sebagai salah satu bagian dari Panca Srada dalam keyakinan umat Hindu Dharma.
Kesembilan dari Dewata Nawa sanga tersebut sebagai penguasa yang menjaga penjuru mata angin yang pada awalnya disebutkan dalam Dewata Nawa Sanga,

Dewi Sri

Dewi "Bhatari" Sri ("Sang Hyang Manik Galih") adalah Dewi Mertha sebagai sumber kemakmuran Ibu Pertiwi yang merupakan sakti dari Dewa Wisnu;
Dengan kramaning sembah, Dewi Sri dipuja sebagai sumber dari kekayaan yang memiliki segala keindahan sebagai benih yang maha mengetahui.
    • Dipuja di pelinggih merajan dengan Bhiseka Sri Sedana atau Limas Catu sebagai pemberi kemakmuran kepada umat manusia dan 
    • Dengan sebutan Dewi Danu, disembah sebagai penguasa air atau danau yang bertujuan untuk memohon keselamatan, kesuburan dalam bidang pertanian.
    • Juga dinamai Dewi Laksmi yang dipuja sebagai dewi kemakmuran dan keseimbangan natural spiritual.

Dewa Wisnu

Dewa; Bathara Wisnu; "Sang Hyang Narayana" (Aksara Suci "A"; Pranawa Omkara "Ung") adalah manifestasi Hyang Widhi dalam prabawanya sebagai dewa pemelihara dalam hal sthiti, memelihara (Tri Kona) yang dalam Widhi Tatwa disebutkan : Wisnu rupa siran pangraksa jagat untuk menegakan dharma kebenaran.
Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam ini dipuja di Pura Puseh sebagai salah satu Kahyangan Tiga yang ada di setiap desa adat di seluruh Bali sebagaimana disebutkan dalam Tri Murti yang saktinya adalah Dewi Sri.

Dalam sumber kutipan Dewata Nawa Sanga, atribut Dewa Wisnu disebutkan :
Arah: Utara/Uttara
Pura: Batur
Senjata: Cakra
PancaWara: Wage
SaptaWara: Soma
Sakti: Dewi Sri
Wahana: Garuda
Fungsi: Pemelihara (sthiti)
Warna : Hitam

Benang Tri Datu

Benang Tri Datu (Tridatu) adalah benang yang terdiri dari tiga macam warna yaitu : merah, putih dan hitam yang merupakan 

simbol manifestasi Hyang Widhi yang dibuat oleh pemangku di pura pada saat hari baik dan memiliki makna meningkatkan aura tersendiri.

Tiga warna benang Tri Datu juga sebagai lambang Kesucian Tuhan dalam manifestasinya

Dewa Brahma

Dewa Brahma (Bhatara Brahma; Lontar Siwa Sasana, Utpeti; Aksara Suci"BA"); Pranawa Omkara dengan aksara "Ang" atau "Am" adalah salah satu dari Dewa Tri Murti yang menurut beberapa naskah di Bali disebutkan :

Kronologi Turunnya Wahyu Tuhan

Kronologi turunnya wahyu Tuhan yang kemudian menjadi pegangan kitab suci weda dan ajaran bagi orang-orang Hindu terjadi melalui beberapa tahap yang menurut dee-belajar | sejarah agama hindu sebagaimana disebutkan :
Kemudian wahyu yang diterima oleh para Maha Rsi tersebut dibukukan oleh Maha Rsi Vyasa dan muridnya menjadi kitab suci

Nyaya

Nyaya dalam aksara dan filsafat.
  • Dalam aksara wreastra, Nyaya berarti Sang Hyang Pasupati, yang diucapkan dengan mantra weda dan dilengkapi dengan bantennya.
  • Untuk mengetahui kenyataan atas kebenaran yang dalam filsafat Nyaya disebutkan dengan pengetahuan yang benar agar menuntun kita ke kegiatan praktis.

Saguna Brahman

Saguna Brahman adalah Brahman dalam keabadian waktu yang keberadaaNya bersifat maya dan tidak berwujud namun aktif dengan segala ciptaanNya.

Kata Saguna sejatinya berasal dari kata sa+guna yaitu sakti dan guna yang berarti :

Sada Siwa

Sadasiwa ("Sada Siwa"; "Sadha Siwa") adalah wujud Sang Hyang Widhi pada tingkatan Maha Loka yang disebut dengan Saguna Brahman karena sudah terpengaruh oleh unsur maya yang dalam filsafat siwa siddhanta disebutkan bahwa,

Nirguna Brahman

Nirguna Brahman adalah Brahman dalam keadaan nirupam yang tidak berbentuk dalam keadaan suci nirmala, 
  • belum terpengaruh oleh apapun juga dan tidak terjamah oleh belenggu mayā,
  • berkedudukan pada alam utama Satyaloka yang maha sempurna.
Dalam keadaan inilah perwujudanNya disebut sebagai Paramasiwa yaitu :
tanpa sifat
atau manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu yang dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan
karena Ia merupakan perwujudan sepi, suci murni, kekal abadi, dan tanpa aktivitas.

Parama Siwa

Parama Siwa; "Paramasiwa" adalah perwujudan Sang Hyang Widhi yang tunggal atau esa pada tingkatan suci nirmala yang belum terpengaruh oleh apapun yang dalam teks sastra disebutkan :

Tri Kona


Tri Kona adalah tiga kemahakuasaan Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa dalam hal : 
  1. Utpati, mencipta 
  2. Sthiti, memelihara 
  3. Pralina, meniadakan
    Dimana sewaktu manusia lahir diberi kekuatan berupa Ongkara Mula yang nantinya disebutkan bermanifestasi menjadi :
    • Sastra Mudra, Sastra Wrestra (Nuriastra) dan Sastra Swalalita. 
    • Ketiga kekuatan sastra inilah

    Dewa Siwa

    Dewa Siwa ("Sang Hyang Siwa, Dewa Iswara"; Lontar Siwa Sasana, Pralina; Aksara Suci "Sa", Pranawa Omkara "Mang"; "Isvara"; Mantram Puja Trisandhya;"Sang Hyang Paramestiguru"; Lontar Anda Bhuwana) adalah dewa pelebur atau pralina, melebur segala hal yang buruk yang juga disebut denganSanghyang Paramesti Guru sebagai guru sejati.
    Dimana Beliau merupakan manifestasi Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa yang dalam Tri Murti sebagai media sakral untuk menerapkan konsep dalam menguatkan kehidupan spiritual.
    Adapun pemujaan Dewa Siwa sebagai pengendali guna tamah dalam darmaning kepandean disebutkan bertujuan untuk membangun kekuatan agar pengaruh negatif guna tamah mampu dicegah menjadi yang positif. 
    • Guna tamah bisa diarahkan ke positif sehingga

    Ongkara

    Eka Aksara Ongkara adalah aksara suci Ong untuk panunggalan Sang Hyang Widhi yang merupakan bagian utama dari aksara wijaksara dan dari Ongkara inilah disebutkan dalam memahami makna ongkara munculnya Dwi Aksara yaitu Ang dan Ah yang juga sebagai perlambang Rwabhineda (Dualitas purusha Prakerti),

    • Ang sebagai Purusa (Bapa Akasha), dan 
    • Ah sebagai Prakerti (Ibu Prtivi).
    Pada tahapan berikutnya, dari Dwi Aksara ini muncullah Tri Aksara, yaitu Ang, Ung dan Mang. Dari banyak sumber pustaka, dikatakan bahwa AUM inilah yang mengawali sehingga muncullah OM, yang sering diucapkandalam setiap mantra dalam persembahyangan.

    Dewa Rudra

    Dewa "Sang Hyang Bhatara" Siwa Rudra (Ludra), aksara suci"MA" adalah dewa yang dipuja sebagai kekuatan untuk memancarkan energi spiritual Tri Murti, dorongan spiritual untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang patut ditiadakan.

    Dalam menghadapi berbagai kesukaran itulah umat manusia sangat membutuhkan kekuatan moral, spiritual dan daya tahan mental yang tangguh untuk mendapatkan keluhuran moral dan ketahanan mental itulah salah satu caranya dengan jalan

    Dewa Indra

    Gambar Dewa Wishnu (Vishnu)Dewa (Bhatara) Indra adalah salah satu dari asta dewata yang dipuja sebagai :

    Dewi Saraswati

    Dewi Sanghyang Saraswati ("Kahyangan Swarga Manik"; Lontar putru pasaji)adalah dewi ilmu pengetahuan pemberi kedamaian, keselamatan, kasih, dan kebersamaan dalam menuntut ilmu pengetahuan.

    Dilambangkan sebagai dewi yang sangat cantik dan jelita yang bertangan empat sebagai sumber dari ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang juga merupakan sakti dari Dewa Brahma yang dipuja sebagai;
    • Dewi pelindung
    • Pelimpah pengetahuan, 
    • Kecerdasan (widya), dan 
    • Sastra.
    Dan keempat tangannya memegang
    • Genitri (tasbih), sebagai simbol ilmu pengetahuan itu tidak habis-habisnya untuk dipelajari.
    • Kropak (lontar), sangat penting dan strategis

    Sekar Madya