OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Awig-Awig Desa Adat

Awig-awig Desa adat adalah aturan-aturan yang dibuat oleh Krama Desa melalui Paruman Desa adat dan terkadang, umumnya banyak yang tidak disuratkan. 
Namun karena perkembangan jaman, dewasa ini telah berhasil disuratkan awig-awig tersebut sebagai pedoman bagi pengurus Desa adat dalam melaksanakan kewajibannya maupun bagi warga, dan di dalam awig-awig tersebut kita jumpai sanksi-sanksi adat bagi warga desa yang melanggarnya. 


Di dalam awig-awig desa ini dapat dilihat perbuatan atau tindakan yang dilarang serta sanksi-sanksinya baik sanksi itu dijatuhkan kepada warga atau keluarganya atau dibebankan kepada masyarakat desa sendiri.
(I Made Widnyana, 199: 5).


Disebutkan pula, bahwa pada saat jaman Raja Dalem Waturenggong, dimana awig - awig dibuat oleh Danghyang Nirarta yang dijuluki pula sebagai Pedanda Sakti Wawu Rawuh, ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik.
  • Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, 
  • Hukum dan peradilan adat / agama ditegakkan, 
  • Prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh / klan disusun. 
  • Organisasi subak ditumbuh-kembangkan, dan 
  • Kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Dan sebagai saran,
  • Dalam suatu kutipan dari forum diskusi jaringan hindu nusantara (ref), disanrankan bahwa harus juga dibuat semacam awig-2 bebantenan (tetandingan banten) desa yg dibuat oleh para sarati banten desa tersebut agar ada pedoman pokoknya dalam membuat banten sederhana menurut desa tersebut seperti apa ?, bila perlu disesuaikan dgn kemampuan warganya.
  • Undang - undang desa diperlukan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Ajegang awig-awig desane untuk Ajeg Bali yang kokoh, teratur, tegak, stagnan dan mantap dalam mempertahankan identitas etnik Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekar Madya