OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Ajeg Bali

Ajeg Bali adalah Bali yang kokoh, teratur, tegak, stagnan dan mantap dalam mempertahankan identitas manusia etnik Bali.

Istilah Ajeg Bali dalam kutipan salah satu koleksi dari UPI Digital Repository, Indonesia University of Education (Ref) yang disebutkan berasal dari dua kata yaitu : 
“Ajeg” dan “Bali”, yang secara harfiah kedua kata tersebut memiliki artinya masing-masing. 
Dalam Kamus Bali Indonesia (1993: 9) kata: “ajeg”= tegak, kukuh (peraturan); “ajegan”=tegakkan.
Contoh penggunaan kata ini seperti: “ajegang awig-awig desane” (=tegakkan peraturan desa). 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 13), terdapat kata “ajek” yang memiliki arti yang sama, yakni: tetap; teratur; tidak berubah. 
Kata “ajek” merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Jawa, yang mempunyai makna yang sama dengan kata “ajeg”. 
Sedangkan kata “Bali” merujuk pada Pulau Bali atau Propinsi Bali yang secara hukum, geografis, dan politis merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 
Dengan demikian Ajeg Bali dapat diartikan sebagai “meng-ajeg-kan Bali” atau “Bali yang ajeg”. Merujuk pada arti kata “ajeg” tersebut maka Bali yang ajeg, berarti adalah, 
“Bali yang kokoh, teratur, tegak, stagnan, mantap, tidak berubah”.
Dalam konteks penelitian ini, Ajeg Bali dimaknai sebagai sebuah politik identitas atau gerakan pemertahanan identitas etnik Bali. 

Gerakan ini bertujuan mengembalikan masyarakat Bali dalam konteks pengamalan ajaran agama Hindu dan kebudayaan Bali, atau disebut pula sebagai re-Balinisasi dan re-Hinduisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekar Madya